Tatapan Mata Firda
Heru Kurniawan
Ada yang aneh, entahlah, aku merasa
setiap kali bertatapan mata dengan Firda, teman sekelasku, hatiku selalu
deg-degan, takut. Tatapan mata Firda selalu mengingatkanku pada mimpi
burukku seminggu yang lalu. Aku bermimpi bertemu dengan seorang raksasa
menakutkan, yang tatapan matanya persis sama dengan tatapan Firda,
menakutkan karena seperti hantu yang ada di film horor.
Tapi,
ternyata, yang merasa takut dengan tatapan mata Firda tidak hanya aku.
Rini, Sisi, Lili, dan teman-teman sekelasku, juga merasa demikian.
Mereka merasa ada perasaan takut setiap kali bertatapan mata dengan
Firda. Siapa, sih, Firda itu?
Firda, anak berambut lurus itu, adalah
siswa baru di kelasku. Ia pindahan dari sekolah lain. Saat perkenalan
sebulan yang lalu, katanya, ia pindah karena ingin hidup bersama dengan
Neneknya tercinta. Kini sudah sebulan ia belajar di kelasku. Tapi
anehnya, ia suka menyendiri. Tidak mau bergaul. Bila ada waktu
istirahat, ia selalu di dalam kelas. Duduk dibangkunya sambil tiduran,
atau mainan boneka kecil yang mirip jenglot. Dan yang membuatku dan
kawan-kawanku takut, setiap kali diajak bicara, ia selalu menatap dengan
tatapan mata aneh yang menakutkan.
Kata Sisi, “Tatapan mata Firda itu mirip hantu yang ada di film-film horor.”
Dan menurutku juga begitu. Akhirnya, semakin bertambah hari, Firda pun
semakin ditakuti oleh teman-temannya. Anehnya, Firda sepertinya tetap
biasa saja, punya teman dan tidak, benar-benar tidak menjadi masalah
baginya. Selalu asyik bermain sendiri dengan boneka kecil jenglotnya,
atau tiduran di bangku.
Sampai pada suatu hari, Lili, anak paling baik dan pintar di kelas, mengajak teman-teman berkumpul.
Lili berkata kepada kami, “Rasanya kita tidak adil terhadap Firda.
Masak, hanya karena tatapan matanya yang menakutkan, kita menjauhinya.”
“Tapi, Li, aku benar-benar takut jika bertatapan dengan Firda. Aku jadi
ingat hantu-hantu di film horor itu,” celetuk Rio, anak paling gendut
dan penakut di kelas kami.
Serentak kami pun tertawa, dan Sisi nyeletuk, “Ah, itu karena kamunya aja yang kebanyakkan nonton film horor.”
Semua anak tertawa terbahak-bahak.
“Terus apa yang akan kita lakukan, Li?” aku bertanya.
“Besok, selepas pulang sekolah, kita bermain ke rumahnya. Tapi ingat,
Firda tidak boleh tahu. Kita harus tahu siapa Firda sebenarnya.”
Serentak kami setuju dengan gagasan Lili. Aku, Lili, dan Sisi-lah yang diberi tugas untuk menyelidiki siapa Firda sebenarnya.
Esok harinya, setelah pulang sekolah, tanpa sepengetahuan Firda, kami
mengikuti Firda dari belakang. Di sebuah rumah sederhana, dengan halaman
yang luas bertabur bunga-bunga, Firda masuk. Kami pun yakin, ini pasti
rumah Firda.
Dengan pelan dan rasa deg-degan yang luar biasa, Sisi
mengetuk pintu. Pintu pun terbuka pelan. Dan kini, di hadapan kami
berdiri seorang Nenek yang menakutkan. Tatapan matanya persis sama
dengan Firda. Kami tambah deg-degan takut.
“Ka..mi teman se..kelas Fi..rda, Nek. Fi..rda ada?”
Nenek itu diam saja. Kami tambah takut. Kemudian menatap kami satu per satu. Kami semakin kalut.
Tapi, entah dari mana datangnya, kami tiba-tiba mendengar suara yang sangat ramah dan lembut.
“Silahkan masuk, Nak.”
Kami terkesiap. Saling pandang. Ternyata suara yang lembut dan ramah
itu dari Nenek di depan kami. Seketika itu, perasaan takut yang merasuk
di otak kami hilang.
Setelah kami duduk di ruang tamu yang indah
dan bersih, Nenek itu berkata, “Kalian datang kemari pasti karena ingin
tahu lebih jauh tentang Firda, yang tatapan matanya menakutkan kan?”
Hah...! kami bengong dan mengangguk.
“Fir, kemarilah!” panggil Nenek itu.
Firda keluar dari kamarnya. Kami pun terperanjat kaget. Ia sangat
berbeda dengan Firda saat di sekolah. Senyumnya merekah manis, dan
tatapan mata menakutkannya hilang sama sekali.
“Kok, bisa?” aku bergumam.
Firda dan Neneknya, yang duduk di hadapan kami, tersenyum menahan tawa.
“Si, Li, Ren, kalian harus tahu, ini Nenekku adalah sutradara teater
terkenal di kota ini, lho. Aku ikut Nenek karena ingin belajar teater,
dan Nenek mau menerimaku menjadi muridnya, jika selama sebulan ini aku
bisa berakting menjadi orang yang menakutkan di sekolah. Dan ternyata,
aktingku berhasil kan?”
“Ya!” kata kami sambil mengangguk kompak seperti paduan suara.
Serentak, Firda dan Nenaknya pun tertawa terbahak-bahak melihat tingkah
kami yang tampak konyol. Tapi, dengan kekonyolan kami ini, kami
akhirnya ikut bergabung bersama Firda, menjadi murid Nenek Firda untuk
belajar teater.
Tapi sayangnya, saat pertama kali kami diberi tugas
untuk berakting menjadi orang yang menakutkan di kelas. Tidak satu pun
teman-teman yang takut. Sebaliknya, mereka malah tertawa terbahak-bahak.
Katanya kami sangat lucu.
Ha ha ha ternyata berakting itu susah juga, ya.
Purwokerto, Juli 2009
Dimuat, Kompas Minggu 31 Januari 2010